Beranda > social, story > Selimut dalam Ribuan Eskpresi Hati

Selimut dalam Ribuan Eskpresi Hati

Di hadapku, ia memeluk hati yang kuselimuti dengan kehangatan di kala malam.

Manakala terik tiba, serasa terbakar selimut itu merasakan sentuhan asing yang tak dikenal sebelumnya pada hatinya.

Panas, terbakar, robek, jatuh selimut seutuhnya hingga ia dapat memeluk hati langsung dengan caranya yang fana.

Ingin rasa untuk berontak, melawan ia yang melepaskan hati dari selimut hangatnya, membunuhnya dengan lilitan erat hingga ia kehabisan nafas, tapi itu malah akan membuat hati ikut tercekik.

Bersabar dan memberi solusi pada hati dengan bijak, tapi emosi terus bergejolak saat ia melakukannya lebih sering lagi di hadapku

.

Dilema, saat selimut ini ‘kembali’ menghadapi situasi seperti ini.

Terbaring dengan robek di berbagai bagian secara tegar.

Terlebih saat mengetahui kenyataan bahwa sang hati tak memberikan ketegasan secara pasti,

hanya dengan beberapa kata dalam sajak berbait samar.

Berapa kali ketegasan selimut untuk tetap menyelimutinya manakala malam tiba ku ungkap,

hati tak pernah berikan ketegasan pasti.

Ya, meskipun begitu selimut tetap memberikan ketegasan untuk tetap menyelimuti manakala malam tiba.

Saat malam tak sedingin senja, ketika siang tak seterik fajar,

berharaplah selimut untuk sekali saja jika hati yang berganti memberi kehangatan dalam kelam.

.

ia, yang telah memeluk hati-hati dalam perjalanannya, membunuh ribuan hati dengan bait puisi kontemporer.

Berkali melepas selimut-selimut yang dimiliki masing masing hati, untuk memuaskan ego-nya.

Atas nama cinta, yang (katanya) menghangatkan dan sekaligus membunuh.

Atas nama kebahagiaan (sesaat), dan atas pendasaran sajak merayu.

Bukan atas dasar ketulusan dan kebahagiaan abadi.

.

Kemanapun hati pergi, selimutnya akan tetap  mendampingi.

Dalam satu visi yang bertahun dijalankan dalam keadaan selaras seirama.

Sembari menjahit beberapa robek,

menjadikan selimut penghangat

Yang tak sekedar menghangatkan, juga sebagai pemberi kenyamanan.

Dalam ribuan eskpresi hati.

Enhanced by Zemanta
  1. rangga
    7 Juni 2011 pada 2:35 am | #1

    Hanya hati yang bisa memilih selimut yang bisa membuat nyaman dan menghiasi hidup. So, belive your heart :D

  2. 7 Juni 2011 pada 8:15 am | #2

    wuihh mantep gan…ijin nyimak dulu ya….

  3. Malaikat Jangan Lukai Cussy
    9 Juni 2011 pada 7:50 pm | #3

    ika engkau belum mempunyai ilmu,
    maka milikilah prasangka yang baik tentang ku
    Begitulah caranya..
    Aku senantiasa berbaik sangka untukmu.. sesekali aku jg mendoa tentangmu..
    Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
    Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
    Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
    Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
    Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,

  4. 13 Juni 2011 pada 4:05 pm | #4

    Malaikat Jangan Lukai Cussy :
    ika engkau belum mempunyai ilmu,
    maka milikilah prasangka yang baik tentang ku
    Begitulah caranya..
    Aku senantiasa berbaik sangka untukmu.. sesekali aku jg mendoa tentangmu..
    Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
    Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
    Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
    Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
    Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,

    aku senantiasa mendoakan kebahagiannya selalu…..

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.