Selimut dalam Ribuan Eskpresi Hati

Di hadapku, ia memeluk hati yang kuselimuti dengan kehangatan di kala malam.

Manakala terik tiba, serasa terbakar selimut itu merasakan sentuhan asing yang tak dikenal sebelumnya pada hatinya.

Panas, terbakar, robek, jatuh selimut seutuhnya hingga ia dapat memeluk hati langsung dengan caranya yang fana.

Ingin rasa untuk berontak, melawan ia yang melepaskan hati dari selimut hangatnya, membunuhnya dengan lilitan erat hingga ia kehabisan nafas, tapi itu malah akan membuat hati ikut tercekik.

Bersabar dan memberi solusi pada hati dengan bijak, tapi emosi terus bergejolak saat ia melakukannya lebih sering lagi di hadapku

.

Dilema, saat selimut ini ‘kembali’ menghadapi situasi seperti ini.

Terbaring dengan robek di berbagai bagian secara tegar.

Terlebih saat mengetahui kenyataan bahwa sang hati tak memberikan ketegasan secara pasti,

hanya dengan beberapa kata dalam sajak berbait samar.

Berapa kali ketegasan selimut untuk tetap menyelimutinya manakala malam tiba ku ungkap,

hati tak pernah berikan ketegasan pasti.

Ya, meskipun begitu selimut tetap memberikan ketegasan untuk tetap menyelimuti manakala malam tiba.

Saat malam tak sedingin senja, ketika siang tak seterik fajar,

berharaplah selimut untuk sekali saja jika hati yang berganti memberi kehangatan dalam kelam.

.

ia, yang telah memeluk hati-hati dalam perjalanannya, membunuh ribuan hati dengan bait puisi kontemporer.

Berkali melepas selimut-selimut yang dimiliki masing masing hati, untuk memuaskan ego-nya.

Atas nama cinta, yang (katanya) menghangatkan dan sekaligus membunuh.

Atas nama kebahagiaan (sesaat), dan atas pendasaran sajak merayu.

Bukan atas dasar ketulusan dan kebahagiaan abadi.

.

Kemanapun hati pergi, selimutnya akan tetap  mendampingi.

Dalam satu visi yang bertahun dijalankan dalam keadaan selaras seirama.

Sembari menjahit beberapa robek,

menjadikan selimut penghangat

Yang tak sekedar menghangatkan, juga sebagai pemberi kenyamanan.

Dalam ribuan eskpresi hati.

Enhanced by Zemanta
Iklan

4 thoughts on “Selimut dalam Ribuan Eskpresi Hati

  1. rangga berkata:

    Hanya hati yang bisa memilih selimut yang bisa membuat nyaman dan menghiasi hidup. So, belive your heart 😀

  2. Malaikat Jangan Lukai Cussy berkata:

    ika engkau belum mempunyai ilmu,
    maka milikilah prasangka yang baik tentang ku
    Begitulah caranya..
    Aku senantiasa berbaik sangka untukmu.. sesekali aku jg mendoa tentangmu..
    Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
    Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
    Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
    Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
    Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,

  3. Malaikat Jangan Lukai Cussy :
    ika engkau belum mempunyai ilmu,
    maka milikilah prasangka yang baik tentang ku
    Begitulah caranya..
    Aku senantiasa berbaik sangka untukmu.. sesekali aku jg mendoa tentangmu..
    Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
    Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
    Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
    Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
    Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,

    aku senantiasa mendoakan kebahagiannya selalu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s