Tentang Kedamaian Hati

“Jangan kau ambil lukanya, ambil pelajarannya”, ucapnya. Bahkan setelah sekian tahun lamanya, pernyataan itu masih terngiang jelas. Seorang sahabat, yang pernah singgah di hati, yang telah mengisi salah satu ruang dengan sajak, argumen, dan kisah kehidupan kami, mengucapnya kala itu ketika jalan kami sudah tak searah lagi. Marah, jengkel, dendam, sempat tumbuh sesaat kala itu, meninggalkan luka yang pelan pelan aku tambal dari berbagai serpihan  yang ada di dalam ruang itu hingga tak ada serpihan yang tercecer, kususun rapi di dinding ruang dari sudut ke sudut. Dan akhirnya, kututup rapat ruang itu selama bertahun tahun untuk melanjutkan perjuangan hidup kala itu.

Tahun demi tahun, kuberanikan diri masuk ke dalam ruang itu, membaca satu demi satu serpihan yang ada, dari sudut ke sudut hingga tak bersisa. Memahami segala makna dibalik kata dan menjadi lebih bijak menyikapinya. Pernah juga, kuajak penghuni ruang lain masuk ke ruang ini untuk sama sama membaca semua sajak di dalamnya, berharap ia kan menerima diriku dan masa laluku sebagai pelajaran hidup. Nyatanya, ia memintaku untuk membakar seisi ruangan itu. Berhasil ku tolak permintaan itu dengan syarat kukunci rapat ruangan itu. Ya, sekali lagi harus kukunci ruangan itu.

Empat tahun telah berlalu, penghuni ruang lain sudah pergi dari ruangnya, meninggalkan hanya sedikit serpihan untuk dibaca. Ku lirik ruang yang kututup rapat, dan kubuka pintu ruang itu untuk kembali membaca serpihan serpihan peninggalannya. Kemudian…… Baca lebih lanjut