Tentang Kedamaian Hati

“Jangan kau ambil lukanya, ambil pelajarannya”, ucapnya. Bahkan setelah sekian tahun lamanya, pernyataan itu masih terngiang jelas. Seorang sahabat, yang pernah singgah di hati, yang telah mengisi salah satu ruang dengan sajak, argumen, dan kisah kehidupan kami, mengucapnya kala itu ketika jalan kami sudah tak searah lagi. Marah, jengkel, dendam, sempat tumbuh sesaat kala itu, meninggalkan luka yang pelan pelan aku tambal dari berbagai serpihan  yang ada di dalam ruang itu hingga tak ada serpihan yang tercecer, kususun rapi di dinding ruang dari sudut ke sudut. Dan akhirnya, kututup rapat ruang itu selama bertahun tahun untuk melanjutkan perjuangan hidup kala itu.

Tahun demi tahun, kuberanikan diri masuk ke dalam ruang itu, membaca satu demi satu serpihan yang ada, dari sudut ke sudut hingga tak bersisa. Memahami segala makna dibalik kata dan menjadi lebih bijak menyikapinya. Pernah juga, kuajak penghuni ruang lain masuk ke ruang ini untuk sama sama membaca semua sajak di dalamnya, berharap ia kan menerima diriku dan masa laluku sebagai pelajaran hidup. Nyatanya, ia memintaku untuk membakar seisi ruangan itu. Berhasil ku tolak permintaan itu dengan syarat kukunci rapat ruangan itu. Ya, sekali lagi harus kukunci ruangan itu.

Empat tahun telah berlalu, penghuni ruang lain sudah pergi dari ruangnya, meninggalkan hanya sedikit serpihan untuk dibaca. Ku lirik ruang yang kututup rapat, dan kubuka pintu ruang itu untuk kembali membaca serpihan serpihan peninggalannya. Kemudian…… Baca lebih lanjut

Sebuah Pertanyaan untuk Pramuka

Masih ingatkah Anda dengan hymne pramuka?

………….
Kami Pramuka Indonesia. Manusia Pancasila
Satyaku kudharmakan. Dharmaku kubhaktikan
Agar Jaya Indonesia

Indonesia Tahah Airku
Kami jadi pandumu
………….

Hari ini saat mengecek jadwal untuk beberapa hari ke depan, saya tersadar bahwa hari ini (14 Agustus 2011) adalah memperingati Hari Pramuka. Ya, bahkan saya sendiri yang 6 tahun lalu masih aktif dalam segala kegiatan pramuka hampir melupakan hari ini. Kira-kira bagaimana wajah pramuka saat ini?

Selimut dalam Ribuan Eskpresi Hati

Di hadapku, ia memeluk hati yang kuselimuti dengan kehangatan di kala malam.

Manakala terik tiba, serasa terbakar selimut itu merasakan sentuhan asing yang tak dikenal sebelumnya pada hatinya.

Panas, terbakar, robek, jatuh selimut seutuhnya hingga ia dapat memeluk hati langsung dengan caranya yang fana.

Ingin rasa untuk berontak, melawan ia yang melepaskan hati dari selimut hangatnya, membunuhnya dengan lilitan erat hingga ia kehabisan nafas, tapi itu malah akan membuat hati ikut tercekik.

Bersabar dan memberi solusi pada hati dengan bijak, tapi emosi terus bergejolak saat ia melakukannya lebih sering lagi di hadapku

. Baca lebih lanjut

Logika dan Perasaan (kembali dipertaruhkan)

Hampir selama setengah tahun ini kebosanan melanda pemikiranku. Tak seperti biasanya yang selalu bisa aku bangkitkan lagi dengan cara lama, kali ini sangat sulit untuk dibangkitkan. Entah itu karena perasaan menolak kehadiran hidupku saat ini atau karena hanya pemikiranku saja yang terlalu skeptis menanggapi semua logika yang sudah aku bangun hingga kini.

Benar benar sebuah kehilangan besar. Bukan seperti kehilangan orang yang kita cintai atau kehilangan suatu barang kesayangan. Ini benar benar fatal. Jati diri yang selama ini aku bentuk semakin kabur dengan keadaan. Apa kali ini aku akan kalah dengan keadaan? Bukankah seharusnya aku yang menjadikan keadaan itu sebagai pengembangan diri? Lalu apa yang seharusnya aku lakukan untuk membangkitkan lagi semangatku itu? Pertanyaan pertanyaan ‘bodoh’ itu selalu saja aku tanyakan pada diri sendiri.

Maaf kalau tulisan ini mengganggu pembaca setia blog ini. Aku hanya merasa penat dengan keadaan sekarang. Sekali lagi aku minta maaf.